Menampilkan seni tradisional ditengah gempuran talenta musik dan nyanyi di panggung Indonesia Got Talents, bukanlah perkara mudah. Itulah yang dihadapi Pragina Gong, talenta tari dari Jogjakarta.
Tidak pernah mendapatkan dukungan sms yang memadai, Jemmy, Nanda, Mega, Puput, Joko, Tata, dan Jona harus masuk babak pilihan juri dua kali berturut-turut. Kurang dukungan?
“Habis, talenta yang lain bagus-bagus dan dukungannya kuat,” ujar Jemmy menjelaskan. Memang niat awal mereka ikut Indonesia's Got Talents bermodalkan 'nekat' belaka. Tapi bukan berarti talenta Pragina menjadi asal-asalan. Sampai saat ini Pragina berhasil membawa seni tari tradisional ke level yang lebih terhormat. Indonesia seakan dibuat terkejut dengan performa tarian yang disertai konsep yang berani dan unik.
Berani dan unik?
Ya, Pragina tidak segan-segan menghancurkan batas antara tari modern dan tradisional sehingga penampilan mereka menjadi unik. Jangan artikan kata unik disini menjadi sesuatu yang sulit dinikmati. Sebaliknya, penampilan Pragina sampai saat ini selalu penuh kreativitas yang menghibur. Dari make up yang membuat bibir menjadi miring sampai kulit yang dibalur dengan cat emas! Memang, kreativitas Pragina tidak ada matinya!
Sayangnya, hasil kerja keras ketujuh mahasiswa dari ISI Jogjakarta ini masih belum mampu membuat orang bersedia menjadi Geng Gong - sebutan bagi pendukung Pragina Gong - untuk mengirimkan sms.
“Bagi kami menari sudah menjadi nafas, sehingga tidak terpikirkan harus mendorong orang untuk mengirimkan sms,” ujar Mega yang disetujui oleh rekan-rekannya. Hal ini terasa wajar, jadwal kompetisi yang ketat membuat waktu mereka habis untuk menyiapkan konsep tarian.
Tanggung jawab berikutnya jatuh kepada Geng Gong, bila ingin mempertahankan Pragina bertahan di babak final. Geng Gong harus berani dalam menghimpun kekuatan sms. Bila tidak, maka babak pilihan juri akan menjadi momok menakutkan bagi Pragina Gong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar